Disampaikan kepada seluruh mahasiswa Teknik Informatika yang memprogramkan matakuliah Metode Numerik, bahwa nama-nama yang tersebut dibawah ini wajib melakukan ujianĀ  ulang yang dilaksanakan pada :

Selasa, 29 Januari 2019, jam 18.00 di kelas F

PENTING !
Ujian ulang ini hanya akan dilaksanakan 1 (satu) kali pada waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu, usahakan datang agar bisa mendapatkan nilai yang maksimal untuk matakuliah Metode Numerik pada semester Gasal 2018/2019. Berikut nama mahasiswa yang wajib melakukan ujian ulang.

Detik.Com | Siapa yang tak mengenal Google, sang raksasa teknologi yang fokus sebagai mesin pencarian ini telah menghipnotis seluruh dunia. Bagaimana tidak, saat ini mensin pencarian (search engine) ini telah digunakan oleh hampir semua orang yang menggunakan internet untuk mencari sesuatu. Padahal kalau dilihat, search engine bukan hanya Google, ada Yahoo.com, Bing.com milik Microsoft, Altavista.com dan masih banyak lagi yang lainnya, namun kenapa pilihan itu tetap jatuh di Google? Hal ini tentu ada hal spesial yang dimiliki oleh perusahaan teknologi ini yang bisa memanjakan penggunanya. Dibalik semua itu, kecanggihan yang dimiliki serta penanaman sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligent) membuat perusahaan ini naik daun dan makin dicintai oleh penggunanya. Namun, pada artikel ini, kita tidak sedang membahas kecanggihan yang dimiliki oleh Google, namun fokus kepada orang dibalik perusahaan besar ini. Ya, Bos Google saat ini. Seorang "anak miskin" dari India yang berhasil meyakinkan para pendiri Google untuk memimpin perusahaan. Siapa dia? Berikut ulasannya.

Mahasiswa Teknik Informatika STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika telah menyelesaikan sebuah pekerjaan besar yaitu pengabdian kepada masyarakat. Sasaran yang dituju adalah anak-anak putus sekolah yang ada di daerah Tanjung Pasir Tarakan Kalimantan Utara. Menurut informasi yang diperoleh bahwa banyak anak-anak di daerah tersebut putus sekolah. Bukan karena kurangnya biaya yang mengakibatkan anak-anak tersebut putus sekolah, namun faktor lingkungan. Tingginya pendapatan ekonomi masyarakat di daerah ini membuat para orang tua lebih membiarkan anaknya mencari uang ketimbang belajar. Hal ini membuat sekumpulan anak-anak Teknik Informatika (TI) STMIK PPKIA tergerak hatinya untuk dapat membantu anak-anak tersebut sehingga mempunyai semangat belajar kembali dan mau kembali bersekolah.